Perih akan rindu, sesak akan sesal, derai ribuan airmata, merekalah yang selama tiga tahun ini setia menghantui masa masa sendiriku. Bayang luka kala itu tiada jenuh menghadang tiap derap langkah maju, saat aku mencoba melupakannya. Mengapa aku harus dikenalkan dengan rasa tulus? Mengapa kesetiaan terasa seperti menelan bulat bongkahan pil pahit?
Apa ini teguran dari pemilik seluruh alam, agar diriku yg rentan akan khilaf belajar dan lebih mengerti makna terdalam dari kata PERASAAN? Ini terasa menyiksa, tolong ajari aku bagaimana cara agar diri ini mampu terlepas dari terpaan angin masa dulu
-unevano mahart-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar