September 26, 2014

Angin Masa Dulu

Perih akan rindu, sesak akan sesal, derai ribuan airmata, merekalah yang selama tiga tahun ini setia menghantui masa masa sendiriku. Bayang luka kala itu tiada jenuh menghadang tiap derap langkah maju, saat aku mencoba melupakannya. Mengapa aku harus dikenalkan dengan rasa tulus? Mengapa kesetiaan terasa seperti menelan bulat bongkahan pil pahit?

Apa ini teguran dari pemilik seluruh alam, agar diriku yg rentan akan khilaf belajar dan lebih mengerti makna terdalam dari kata PERASAAN? Ini terasa menyiksa, tolong ajari aku bagaimana cara agar diri ini mampu terlepas dari terpaan angin masa dulu


-unevano mahart-

September 25, 2014

A k a n k a h ?

Tak akan aku berteriak salah jika seseorang berpendapat bahwa hati ini masih terpaku kuat padanya yang kini telah termiliki. Aku menyadari hal tersebut dengan baik, tidak mengapa bila mereka tertawa karena kemunafikan yang aku buat. Hati ini terlalu rutin dipaksa tegar, merasakannya dalam diam, dan tidak membiarkan orang lain mengusiknya, mengetahui seluk beluknya. 
Suatu waktu, sepasang tangan manis dengan terampil mencongkel paku-paku masa lalu di hati. Ku mulai kembali dikenalkan oleh debar-debar jantung, walau belum sama dengan debaran aku padamu. Entahlah, 

Tapi, akankah Tuhan mengirimkan takdir agar aku dapat melupakan sosok sempurna dalam kenangan? Akankah, diriku dapat dengan mudah menggantikkan DIRIMU yang terlampau aku cintai sepenuh hati? Akankah, ini menjadi sebuah awal yang menyenangkan?

Tuhan.... Aku tak ingin kembali merasakan sakit hati. Aku tak ingin kembali merasakan jatuh ketika melayang terbang tinggi. Aku tak ingin kembali mengalami menjadi pihak yg ditinggalkan secara sepihak. Aku tak ingin, Tuhan....



-unevano mahart-

September 23, 2014

Looking Back

Lamunan ini kembali menggandeng lenganku untuk berjalan mundur, senang dalam nafsu berkutat jauh tenggelam masa lalu. Tak perduli seberapa perih yang akan diterima hati ini, bila kepastian dari sebuah kebenaran yang nyata menampar keras bersama kehidupanku sekarang. Siapa yang ingin terkurung dalam jeratan kenangan? Maafkan diriku yang selama ini berbohong, dari lubuk hati yang paling dalam..................masih (dan akan selalu seperti itu) meneriakan namamu. Namamu...


-unevano mahart-