Tak akan aku berteriak salah jika seseorang berpendapat bahwa hati ini masih terpaku kuat padanya yang kini telah termiliki. Aku menyadari hal tersebut dengan baik, tidak mengapa bila mereka tertawa karena kemunafikan yang aku buat. Hati ini terlalu rutin dipaksa tegar, merasakannya dalam diam, dan tidak membiarkan orang lain mengusiknya, mengetahui seluk beluknya.
Suatu waktu, sepasang tangan manis dengan terampil mencongkel paku-paku masa lalu di hati. Ku mulai kembali dikenalkan oleh debar-debar jantung, walau belum sama dengan debaran aku padamu. Entahlah,
Tapi, akankah Tuhan mengirimkan takdir agar aku dapat melupakan sosok sempurna dalam kenangan? Akankah, diriku dapat dengan mudah menggantikkan DIRIMU yang terlampau aku cintai sepenuh hati? Akankah, ini menjadi sebuah awal yang menyenangkan?
Tuhan.... Aku tak ingin kembali merasakan sakit hati. Aku tak ingin kembali merasakan jatuh ketika melayang terbang tinggi. Aku tak ingin kembali mengalami menjadi pihak yg ditinggalkan secara sepihak. Aku tak ingin, Tuhan....
-unevano mahart-