Sungguh bertolakbelakang dengan ratusan bahkan ribuan sajak terka
Aku menyelusurinya dengan mata telanjang
Tiada uluran yang berkenan menjadi saksinya
Terlebih saksi bisu
Renungan ini aku tulis untuk mengabarkan
CINTA
Yang selalu menjadi jejak dan akan membekas hingga waktu berkenan menghapus semua
Sebuah kata sederhana dengan berjuta makna
Dari senyuman hingga terpelosok jauh dalam tangisan luka
Jatuh bangun aku mempertahankan hubungan itu
Kian meronta, meraum, meringis oleh perbedaan
Orang-orang berbondong-bondong menyoraki
Perbedaan adalah alasan kuat untuk bersatu
Perbedaan adalah pedoman untuk saling berbagi
Namun apa?
Hujat tanpa penat menyambangi kehidupan damaiku
Sampai mereka menang dan membuatku mengalah
Aku lagi-lagi harus terjatuh di lubang yang sama
Terseret ombak sesal, hingga membawa tubuh ringkih ini ke sebuah situasi pahit
Aku harus pergi meninggalkanmu
Semua jika sudah dibutakan oleh CINTA
Laraspun mati, tak lagi sanggup menopang ledakan nafsu
Denting jarum jam mulai merampas habis irama detak jatuh hati
Aku menjalaninya dengan suka dan duka
Memandanginya dibalik hamparan kaca bening namun tebal
Memisahkan cinta kita
Sungguh aku menyadari itu
Menyadari sebuah fakta jika aku tak dapat menggapainya
Adat beserta istiadat sukarela memberi kita jarak
Di sisi lain, aku merasa diselamatkan dari dosa nafsu dunia
Namun di sisi yang lainnya, aku merasa direngkuh kuat oleh kemunafikan belaka
Betapa rentan jiwa ini yang sudah tersadung oleh sedu-sedan luka di hamparan sahara
Oh,
Benar-benar dua kisah yang berbeda ...
-unevano mahart-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar