Agustus 27, 2014

Redam Arah Hidup

Memendam angan beribu ikhtiar aku damba tiap detik hingga menit mulai menyergapiku dengan jutaan tanya. Aku tidak mungkin membiarkan memori indah kita bersama hilang tergerus kekejaman sang waktu. Biar saja semua orang menganggap ini tabu, entah sebagian mencaciku bagai kotoran yang selamanya tiada guna. Untuk apalagi aku mensiasati demi kekokohan batu yang telah lapuk? Gundah aku menulis rentetan pengakuan bahwa diriku tetaplah sama. Revolusi, mereka selalu menuntut itu terhadapku. Jiwa ini tak lagi setegar batu karang di lautan lepas. Mencintaimu tanpa batas seolah menegurku untuk menjadi diriku sendiri. Permasalahan batin ini, akulah solusinya. Hingga rasa menghambar di hamparan biru langit. Doa tak kunjung putus mengalir, berharap Engkau menjabah.
Sosok hitam
serta putih
Menggandeng lengan kanan kiriku tanpa canggung. Kaki inilah yang memiliki hak, hak yang tidak bisa digugat oleh siapapun.
HAK UNTUK MEMILIH ARAH HIDUP ...


-unevano mahart-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar