September 16, 2014

Kembali Tergerus

Nafas meluluhkan tiap lahar api asmara para penikmat masa muda. Mentari sudah tiba saatnya untuk kembali ke peraduan, hingga mata terpejam segalanya tiada beda. Tangan tanpa ragu mengepal menyemangati tubuh ringkih diri, berharap sebuah dorongan untuk maju meniti masa depan tak tertebak nyata. Rajutan kasih dan asa membumbuhi raga-raga haus di tengah gurun yang terik, sungguh aku berkeinginan untuk menjadi pertama. Orang pertama peraih cita...

Tertengguk empedu penuh paksa, penuh noda amarah, semua terbakar meluluh lantah rasa pahit. Engkaulah pria yang aku puja penuh suka, berenang ceria bersama gelombang cinta yang kekuatan arusnya tak pernah aku tebak. Akankah menenggelamkanku? Atau menghantarkanku menuju kebahagiaan? Semuanya, aku belum pernah memikirkan apa resiko dari setiap keputusan sepihak yang ku buat sendiri...

Bagai buah simalakama yang dengan suka rela aku incip, roma-roma kehidupan mencekik leher ini lagi. Sadar, aku telah meniti kesalahan dan tentu saja aku menyesalinya dengan ritme haru penuh kesedihan...

Disini aku kembali sendiri, meskipun aku tak mau.Aku ingin memperbaiki apa yang seharusnya diperbaikiAku pun ingin merubah segala sesuatu yang pantas untuk diubahSerta aku ingin menata semua angan hingga langkah ini kembali berjalan di jalur sesungguhnya

Demi Tuhan, aku tak ingin lagi....



-unevano mahart-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar