Agustus 27, 2014

Redam Arah Hidup

Memendam angan beribu ikhtiar aku damba tiap detik hingga menit mulai menyergapiku dengan jutaan tanya. Aku tidak mungkin membiarkan memori indah kita bersama hilang tergerus kekejaman sang waktu. Biar saja semua orang menganggap ini tabu, entah sebagian mencaciku bagai kotoran yang selamanya tiada guna. Untuk apalagi aku mensiasati demi kekokohan batu yang telah lapuk? Gundah aku menulis rentetan pengakuan bahwa diriku tetaplah sama. Revolusi, mereka selalu menuntut itu terhadapku. Jiwa ini tak lagi setegar batu karang di lautan lepas. Mencintaimu tanpa batas seolah menegurku untuk menjadi diriku sendiri. Permasalahan batin ini, akulah solusinya. Hingga rasa menghambar di hamparan biru langit. Doa tak kunjung putus mengalir, berharap Engkau menjabah.
Sosok hitam
serta putih
Menggandeng lengan kanan kiriku tanpa canggung. Kaki inilah yang memiliki hak, hak yang tidak bisa digugat oleh siapapun.
HAK UNTUK MEMILIH ARAH HIDUP ...


-unevano mahart-

Pilihan

Ada saatnya kita dihadapi oleh dua pilihan soal rasa, diantaranya meneruskan atau meninggalkan. Kita terdiam sesaat guna berfikir apa laju yang harus kita tempuh ...

Mencintaimu ...?

 -unevano mahart- 

 

Kisah yang Berbeda

Ada dua buah kisah yang berbeda
Sungguh bertolakbelakang dengan ratusan bahkan ribuan sajak terka
Aku menyelusurinya dengan mata telanjang
Tiada uluran yang berkenan menjadi saksinya
Terlebih saksi bisu
Renungan ini aku tulis untuk mengabarkan
CINTA
Yang selalu menjadi jejak dan akan membekas hingga waktu berkenan menghapus semua
Sebuah kata sederhana dengan berjuta makna
Dari senyuman hingga terpelosok jauh dalam tangisan luka
Jatuh bangun aku mempertahankan hubungan itu
Kian meronta, meraum, meringis oleh perbedaan
Orang-orang berbondong-bondong menyoraki 
Perbedaan adalah alasan kuat untuk bersatu
Perbedaan adalah pedoman untuk saling berbagi

Namun apa?
Hujat tanpa penat menyambangi kehidupan damaiku
Sampai mereka menang dan membuatku mengalah
Aku lagi-lagi harus terjatuh di lubang yang sama
Terseret ombak sesal, hingga membawa tubuh ringkih ini ke sebuah situasi pahit
Aku harus pergi meninggalkanmu

Semua jika sudah dibutakan oleh CINTA
Laraspun mati, tak lagi sanggup menopang ledakan nafsu
Denting jarum jam mulai merampas habis irama detak jatuh hati
Aku menjalaninya dengan suka dan duka
Memandanginya dibalik hamparan kaca bening namun tebal
Memisahkan cinta kita
Sungguh aku menyadari itu
Menyadari sebuah fakta jika aku tak dapat menggapainya
Adat beserta istiadat sukarela memberi kita jarak
Di sisi lain, aku merasa diselamatkan dari dosa nafsu dunia
Namun di sisi yang lainnya, aku merasa direngkuh kuat oleh kemunafikan belaka
Betapa rentan jiwa ini yang sudah tersadung oleh sedu-sedan luka di hamparan sahara
Oh,
Benar-benar dua kisah yang berbeda ...

-unevano mahart-

-

Tidak ada yang lebih abadi dari Sang Kuasa. Dia, penentu kemana kakiku ini melangkah sepenuhnya. Sebuah hak mutlak yang tidak akan pernah bisa aku pungkiri. Kisah ini berawal dari sebuah ketidaksengajaan saat aku bertemu denganmu dalam sesi kebahagiaan. Bahkan bayang senyum manismu masih terekam cantik dilorong-lorong memori indah kita berdua. Kenyataan tega mencabik diriku yang kini masih setia mengenang kebahagiaan kita. Tanpa mengenal lelah, waktu tanpa iba mengusik lamunan ini. Aku tersadar bahwa dirimu sekarang bukanlah dirimu yang dulu. Kini sepenuhnya hatimu, yang dulu ku miliki telah berpindah tangan. Kau bahagia dengan dia, aku bisa merasakan itu.
Senyum pahit lagi-lagi harus ku tengguk dalam sekali hentak,
Setidaknya, aku bersama kamu pernah memulai sebuah komitmen dengan gejolak cinta yang menyenangkan hati
Meskipun aku mengingat betul
Diujung perempatan itu, kita berpisah dalam linangan airmata.


-unevano mahart-